4/28/2021
Tuhan, Mengapa Aku Tidak Sabar?
Tentang sabar. kata yang sering didengar oleh telinga kita. Kata yang disebut saat seorang manusia terlihat lemah dibalik sebuah permasalahan. Kata yang sering dipakai untuk basa-basi alih-alih menenangkan hati. Kata yang terlihat singkat, tetapi kebanyakan manusia tidak kuat.
Tentang sabar. Aku lebih suka menyebutnya dengan menunggu. Sebab lebih realistis. Tidak terkesan praktis, padahal nyatanya sungguh miris. Perlu mendatangi Tuhan dan banyak mengemis. Sabar, yaitu menunggu Tuhan menggunakan kuasa-Nya. Membuka segalanya dibalik rahasia-rahasianya.
Tapi, Tuhan.. Mengapa aku tidak sabar? Aku cenderung berdebar hingga dada sesak sebab lelah menunggu. Aku hanya merasa terburu-buru untuk tahu kejutan apa yang Engkau siapkan. Akupun selalu bertanya-tanya. Kapan kejutan itu datang? Apa keajaiban akan memihakku? Mengapa aku sunggu geram padahal harus terus menunggu.
Oh, Tuhan. Sungguh lemah sekali bukan hamba-Mu yang satu ini? Mengangkat kedua tangan untuk bermunajat saja bisa dihitung dengan jari, tapi menuntut banyak hal untuk segera dikabulkan. Mengutuk hari-hari dengan merasa tidak pernah bahagia, padahal rezeki datang berlimpah. Menyesali hal yang tidak perlu, tapi kesalahan fatal lupa tuk disesali.
Tuhan. Bolehkah sekali ini saja, aku mengharapkan jalan keluar yang lebih cepat. Rasa tidak sabarku yang tiada obat ini sunggu sesak. Tuhan, keluarkan aku dari segala belenggu dunia yang tidak sanggup lagi aku hancurkan. Tuhan, aku yang tidak sabar ini, memohon agar segera dikabulkan.
3/22/2021
A Random Talking
Hai..
Rasanya kayak hampir seabad aku tidak menyalurkan emosiku dalam tulisan. Kali ini aku cuma mau nyampah, ngomongin hal random karena cuma pengen meluapkan kejenuhan dengan kehidupan ini. Jujur aja, kata "jenuh" nggak akan terlontar, jika saja masalah tidak datang. Hidup ini memang tidak mungkin jika tidak ada masalah. Hanya saja, aku sedang di posisi paling mentok, seolah otak udah nggak sampai buat mikir apa-apa. Kayak hidup cuma tinggal nunggu apa yang akan dilakukan sama Yang Maha Kuasa. Manusia bener-bener tiada kuasa.
Kalian pernah nggak sih, menyayangi sesuatu atau seseorang, sekaligus membencinya. Perasaan ingin marah, tapi tak pandai meluapkan. Raga ingin menjauh, tapi jiwa masih saling bergantungan. Bingung? Sama. Emang bener-bener idup ngga bisa dipikir pakai otak manusia aja, stres ujung-ujungnya.
Seperempat abadku ini, aku diajarkan oleh alam untuk mengikhlaskan. Tahun lalu, aku dipaksa alam untuk mengikhlaskan kepergian seseorang yang tidak akan kembali lagi. Tuhan memanggilnya. Di tahun yang sama, alam kembali menghampiriku untuk mengatakan "Lagi-lagi kau harus bisa mengikhlaskan". Aku dipaksa mengikhlaskan kepergian seseorang, yang sudah tidak boleh lagi aku harapkan. Seseorang yang sudah lama aku jauhi karena aku sadar, happy ending bukan milik kita. Selama itu juga aku berusaha meredam hati sebaik mungkin, bahwa rasa ini tidak boleh dilanjutkan.
Di tahun ini, alam sudah menunggu di depanku, hanya saja aku menghindar. Masih banyak yang aku usahakan, agar tidak ada lagi kepergian di tahun ini. Aku hanya berharap, seseorang yang hendak pergi ini, kembali ke Jalan Tuhan yang benar. Aku berharap, seseorang yang hendak pergi ini, kembeli ke pelukan ibunya yang tidak sempurna itu. Ibu yang semapt dibencinya.
Ini alasan aku tidak pernah menulis lagi. Rasanya, tulisan tidak mampu menghibur dan membuat lega. Tapi aku sadar, setidaknya dengan tulisan, artinya aku masih memiliki harapan. Artinya, aku masih percaya dengan diriku sendiri, yang saat ini keadaannya tidak memungkinkan untuk memohon kepada bantak telinga, untuk mendengarkan.
Thanks.
12/06/2020
Dialog Sendiri
Kau dulu mimpiku
Aku mulai merangkai kata demi kata tentangmu
Semua yang kutulis adalah dirimu
Kata-kata itu berubah menjadi kalimat per kalimat
dan bait per bait
Seluruhnya adalah ceritamu
Aku mencoba menulis yang lain
Perlahan menutup mataku tiap bayangmu menghampiri
Yang benar saja, justru semakin jelas anganmu
Aku mencoba berpindah latar untuk menulis
Lagi-lagi kata demi kata itu menuju kerinduanku padamu
Aku menulis lagi di kertas lain
Dengan latar yang yang sunyi nun jauh
Senyummu mengejarku, menghampiriku
Aku tak lagi bisa mengelak
Aku tuangkan semuanya lagi
Bait-bait yang aku hindari
Bayang-bayang yang tutupi
Senyum-senyum yang aku tinggal pergi
Tapi hanya aku pembacanya
Kau tidak lagi ada di ruangan ini
Berada di dalam dimensi yang lain
Di dalam ruangan yang tak lagi sempit
Aku sendiri
7/09/2020
Pagi yang Menyapa
Tentang pagiku hari ini. ia menyapa dengan cuaca yang bagus, mentari yang terang,angin sepoi yang sejuk. Sayangnya, terlintas ia membawaku pada kenangan buruk. ia memulai dengan menyelimutiku dengan rasa bersalah yang tak kunjung sembuh.
Saat itu, si bungsu yang sedang jauh di negeri orang. Sangat jauh, hingga tak mampu melangkahkan kakinya kembali ke tanah asal. Tak mampu bersua dengan orang yang tersayang. Tak mampu melepas kepergian untuk terakhir kalinya, dan yang tak akan pernah kembali. Tentunya, saat itu yang tersisa hanya segenap kerinduan yang tak dapat diharapkan. Kerinduan yang tak akan pernah menemukan obatnya.
Di mana rasa sesal itu? Yang hingga sekarang justru membuat dada terasa sangat sesak ketika mengingatnya. Harusnya aku lebih awal mempertemukan si bungsu dengan Abah lewat via telepon, sebelum matanya benar-benar tertutup rapat. Rasa sesal itu selalu hadir dalam angan sekaligus dengan bayangan raut muka si bungsu yang kesedihannya sangat mendalam. Aku kembali diam, merenung, sesak kembali.
Aku tahu, itu bukan salahku. Ada Tangan Tuhan yang turut bercampur. Sebagai hamba yang hina, aku jelas hanya mampu menghibur diri, meski rasa sesal itu pun akan kembali dan kembali.
6/25/2020
Seperempat Abad Mendekat
Di usia menjelang 25 ini, aku benar-benar merasa hidup. Ada perasaan yang belum pernah hadir seperti sebelumnya. Ada rindu yang mencekam, berbeda dengan sebelumnya. Ada tekanan teramat, tak seperti sebelumnya. Dan ada dorongan semangat, tidak seperti sebelumnya.
Perasaan itu beragam, seperti penasaran, rasa bersalah, kesedihan, bahagia, terkejut, hingga patah. Kerinduan itu bagai tusukan yang amat sakit, kerinduan yang hanya dapat dipertemukan dengan doa, kerinduan untuk dunia yang berbeda. Tekanan itu bagai tembus hingga tulang belulang, tak kuasa menampiknya. Dan dorongan semangat, yang giat datang hingga menarik simpul senyuman.
Di tahun ini, banyak sekali yang harus aku ucapkan kepada diri sendiri, kepada Tuhan, kepada orang terdekat.
Maaf, aku harus terpaksa banyak mengeluh, akibat terkejut yang berlarut.
Tolong, Selalu ada di sisiku, percayai aku.
Dan Terimakasih, telah percaya dengan segala kekuatan ini.
Sekian.
4/27/2020
Na, Sebenarnya di sini Sudah Lama Gelap
Na, bumi sedang
sakit
Aku juga tidak
ingin menyalahkanmu
Para bedebah juga
banyak yang rumit
Giat memperkeruh
keadaan
Tertawa melihat
rakyat yang semakin sekarat
Diguncang panik
yang teramat
Na, sebenarnya di
sini sudah lama gelap
Hanya saja masih
banyak yang ramah
Gemar menyalakan
cahaya
Sembari terus berharap
baskara menyinarinya
Meski banyak juga
yang kerap menggelapkan kembali
Na, jauh sebelum
datangmu
Bumi sudah engap
Mengandung umat
yang terlanjur tak berakhlak
Diusik tangan tak
bertanggung jawab
Memberi makan
egonya
Na, Corona..
Na..
(SELAMAT HARI PUISI NASIONAL 2020, di masa pandemi ini. Semoga segera pulih)
3/03/2020
Ayah telah pergi, Ma!
Terik Sang Bagaskara mulai meredup saat itu
Ia tampak ingin memberikan kabar angkasa
Aku merasakan detak jantungnya berhenti
Sosok yang sedang lemah tidak berdaya
Bumi mulai gelap, ingin ikut serta berbela sungkawa
Setiap mata mulai tak sanggup membendung
Beberapa rintihan mulai terdengar
Genggaman belahan jiwanya tak mampu untuk dilepas
Ayah telah pergi, Ma
Apakah kita mampu hidup tanpanya?
Mata sembabnya terus mengucurkan air matanya
Memandangiku, berusaha memeluk hatiku
Ia mendekat, memeluk, sesenggukan
Berusaha menguatkan
Saat ini..
Aku hanya punya mama
Mama hanya punya aku
Ia tampak ingin memberikan kabar angkasa
Aku merasakan detak jantungnya berhenti
Sosok yang sedang lemah tidak berdaya
Bumi mulai gelap, ingin ikut serta berbela sungkawa
Setiap mata mulai tak sanggup membendung
Beberapa rintihan mulai terdengar
Genggaman belahan jiwanya tak mampu untuk dilepas
Ayah telah pergi, Ma
Apakah kita mampu hidup tanpanya?
Mata sembabnya terus mengucurkan air matanya
Memandangiku, berusaha memeluk hatiku
Ia mendekat, memeluk, sesenggukan
Berusaha menguatkan
Saat ini..
Aku hanya punya mama
Mama hanya punya aku
2/14/2020
Kita Enggan, Tidak Peduli
Seringkali kita tidak sadar
Atau tidak mampu
Mengenali diri sendiri
Salah sangka
Yang baik dianggap tidak baik
Yang tidak baik terasa sangat baik
Sudah nyaman
Tidak sadar
Ada hati yang merasa perih
Ada atma yang turut memikirkan
Tapi kita lupa
Kita enggan
Tidak peduli
Bahu yang sudah disediakan
Kita hanya perlu bersandar
Tapi lagi
Kita enggan
Tidak peduli
Atau tidak mampu
Mengenali diri sendiri
Salah sangka
Yang baik dianggap tidak baik
Yang tidak baik terasa sangat baik
Sudah nyaman
Tidak sadar
Ada hati yang merasa perih
Ada atma yang turut memikirkan
Tapi kita lupa
Kita enggan
Tidak peduli
Bahu yang sudah disediakan
Kita hanya perlu bersandar
Tapi lagi
Kita enggan
Tidak peduli
12/31/2019
Tafsir Awan dan Hujan "2"
Bersandar pada dinding belakang
Menikmati syahdu malam
Dibalik kaca, menatap awan
Angin memberi kabar
"Hujan akan datang"
Awan turut menilik
Tersenyum menyimpan segala ungkapan
Menanam asa pada masa
Yang siap mendampingi
Selama tiga ratus enam puluh lima hari
"Malam ini, silahkan dipersiapkan", ucapnya
Tulis, ucapkan dalam dialog Sang Maha Agung
Ingat, jangan kau tancapkan ambisi dalam kesangsian
Lafalkan dengan keyakinan
Aku tersenyum, heran
Awan dan hujan berunding
Mereka tahu aku suka ragu
"Senyummu, mengiyakan sesuatu"
Ucapnya lagi
"Baik, aku akan berdampingan dengan masa", jawabku
"Ku katakan lagi, jangan banjiri kalbu dengan kesangsian, derasku tak seberapa"
Aku menyetujuinya
Kataku dalam batin
Lagi-lagi tafsir awan dan hujan
Dalam kemasan yang berbeda
Menikmati syahdu malam
Dibalik kaca, menatap awan
Angin memberi kabar
"Hujan akan datang"
Awan turut menilik
Tersenyum menyimpan segala ungkapan
Menanam asa pada masa
Yang siap mendampingi
Selama tiga ratus enam puluh lima hari
"Malam ini, silahkan dipersiapkan", ucapnya
Tulis, ucapkan dalam dialog Sang Maha Agung
Ingat, jangan kau tancapkan ambisi dalam kesangsian
Lafalkan dengan keyakinan
Aku tersenyum, heran
Awan dan hujan berunding
Mereka tahu aku suka ragu
"Senyummu, mengiyakan sesuatu"
Ucapnya lagi
"Baik, aku akan berdampingan dengan masa", jawabku
"Ku katakan lagi, jangan banjiri kalbu dengan kesangsian, derasku tak seberapa"
Aku menyetujuinya
Kataku dalam batin
Lagi-lagi tafsir awan dan hujan
Dalam kemasan yang berbeda
Dhul_
12/26/2019
Tafsir Awan dan Hujan
Di luar, ku dengar suara gemuruh
Jeruk peras hangat di depanku hanya kupandangi saja
Awan sedang murung mendung
Seolah akan meluapkan segala rasa, marah misalnya
Disusul hujan turun mengguyur
Membasahi alam nan indah
Dedaunan segar bak tertawa bahagia
Dan aku? Duduk dan terpekur tanpa tahu apa yang sedang mengoyak kalbu
Isak tangis tertuang dibalik derasnya hujan
Pelan-pelan berkelana menapaki memori lampau
Aku seolah diburu sesal, hingga sebal
Penyesalan menempati titik terendah sebuah hati
Iya, perasaan perih hingga paling menghunjam
Andai awan yang gelap dapat ditafsirkan
Bagai mata butaku saat itu
Saat aku berbalik arah,
tanpa melihat ke belakang, menatap matamu
Andai kata ingin menafsirkan derasnya hujan
Bagai penyesalanku terhadapmu
Dan aku ingin berkata
"Aku ingin berbagi dunia bersamamu"
Tentu kau akan menolaknya
Pun mentertawakannya
Sebab rinduku adalah tong kosong dihadapanmu
Tangisku ibarat gaduh dalam penatmu
Sesalku sebatas ilalang bagimu
Dhul_
Jeruk peras hangat di depanku hanya kupandangi saja
Awan sedang murung mendung
Seolah akan meluapkan segala rasa, marah misalnya
Disusul hujan turun mengguyur
Membasahi alam nan indah
Dedaunan segar bak tertawa bahagia
Dan aku? Duduk dan terpekur tanpa tahu apa yang sedang mengoyak kalbu
Isak tangis tertuang dibalik derasnya hujan
Pelan-pelan berkelana menapaki memori lampau
Aku seolah diburu sesal, hingga sebal
Penyesalan menempati titik terendah sebuah hati
Iya, perasaan perih hingga paling menghunjam
Andai awan yang gelap dapat ditafsirkan
Bagai mata butaku saat itu
Saat aku berbalik arah,
tanpa melihat ke belakang, menatap matamu
Andai kata ingin menafsirkan derasnya hujan
Bagai penyesalanku terhadapmu
Dan aku ingin berkata
"Aku ingin berbagi dunia bersamamu"
Tentu kau akan menolaknya
Pun mentertawakannya
Sebab rinduku adalah tong kosong dihadapanmu
Tangisku ibarat gaduh dalam penatmu
Sesalku sebatas ilalang bagimu
Dhul_
12/23/2019
Terbakar kesalahan
Kopiku tidak sempat aku habiskan
Berharap malamku hanyut dalam lelap
Aku luruskan badan, dan menutup mata pelan-pelan
Tercengang, mataku terbuka lebar
Kesalahan masa lalu kembali membakar
Berapi-api mendadak menyalahkan
Tanpa permisi, seolah langsung menghantam
Kepada hati, sejuknya malam semoga mendinginkanmu
Berdiskusi, hingga mampu memaafkan
Kita berada dalam satu ruang
Namun kau yang terdalam
Lagi-lagi berharap, kita akan hidup tenang
Berharap malamku hanyut dalam lelap
Aku luruskan badan, dan menutup mata pelan-pelan
Tercengang, mataku terbuka lebar
Kesalahan masa lalu kembali membakar
Berapi-api mendadak menyalahkan
Tanpa permisi, seolah langsung menghantam
Kepada hati, sejuknya malam semoga mendinginkanmu
Berdiskusi, hingga mampu memaafkan
Kita berada dalam satu ruang
Namun kau yang terdalam
Lagi-lagi berharap, kita akan hidup tenang
12/20/2019
Kenapa Menulis?
Kenapa dengan menulis?
Bagiku, menulis adalah bentuk menuangkan rasa
Menulis adalah upaya penyampaian makna tak kasat mata
Menulis adalah dunia kedua dari sekadar bertatap muka
Karena bagiku, pertemuan yang lebih penting dari sekadar menatap adalah sejenak dialog dengan kata-kata.
Bagiku, menulis adalah bentuk menuangkan rasa
Menulis adalah upaya penyampaian makna tak kasat mata
Menulis adalah dunia kedua dari sekadar bertatap muka
Karena bagiku, pertemuan yang lebih penting dari sekadar menatap adalah sejenak dialog dengan kata-kata.
Cerita Malam-Malam
Rasanya agak unik. Mudah sekali mengenali perangai yang apik. Namun, terkadang lupa untuk berdamai dengan diri sendiri. Lupa pula melirik penampilan diri sendiri.
Manusia seringkali dihadapkan dengan masalah-masalah. Berbagai perihal pelik diperdebatkan dengan cuma-cuma, hanya untuk membela yang belum tentu setia. Dan lagi, mereka lupa mengenali siapa dirinya.
Cukup tau, dermawan terhadap diri sendiri memang jauh lebih sulit. Tidak jarang, beberapa dari mereka membenci kehidupannya yang rumit.
Beberapa manusia juga sibuk untuk menemukan jati dirinya. Gagal, dan membenci lagi untuk kesekian kalinya.
Manusia seringkali dihadapkan dengan masalah-masalah. Berbagai perihal pelik diperdebatkan dengan cuma-cuma, hanya untuk membela yang belum tentu setia. Dan lagi, mereka lupa mengenali siapa dirinya.
Cukup tau, dermawan terhadap diri sendiri memang jauh lebih sulit. Tidak jarang, beberapa dari mereka membenci kehidupannya yang rumit.
Beberapa manusia juga sibuk untuk menemukan jati dirinya. Gagal, dan membenci lagi untuk kesekian kalinya.
11/19/2019
Dialog Manis Ayah
"Yah, aku masuk ke grub drumband. Aku dipilih jadi pemain pianika." Si putri kecil begitu bahagia dengan kabar diterimanya sebagai pemain "pianika", alat musik yang kebetulan ia gemari. Di rumah ia suka bermain dan belajar sendiri dengan alat musik bekas kakaknya dulu. Sayang, beberapa not sudah tidak berfungsi. "Yah, pianika punya kakak udah banyak yang nggak bisa. Kalau beli lagi bagaimana?", Kemudian ayahnya mengangguk, tanda mengiyakan.
Beberapa hari setelah hari istimewa si putri kecil, di bulan November. Saat itu ayahnya sedang disibukkan dengan pekerjaannya, hingga larut malam. Bisa jadi, si putri kecil tidak ingat lagi dengan apa yang ia idamkan. "Nak, tidurnya yang bener." Kemudian si putri kecil bangun dengan setengah kesadarannya, dan membenarkan posisi tidurnya. "Ini pianika baru, hadiah ulang tahun." Ucap ayah pada putrinya yang sempat terbangun karena melihat pianika barunya, kemudian memeluknya, lagi-lagi dengan setengah kesadarannya.
Beranjak dewasa, si putri kecil teringat betul dialog manis dengan ayahnya malam itu. Iya, ayahnya adalah sosok paling romantis tanpa mampu membungkusnya dengan sebuah frasa atau kata-kata. Dan ia sendiri sadar, bahwa ia adalah si kecil tidak tahu diri karena lupa untuk sekadar "berterima kasih".
Cerita mini yang diqiyaskan dari cerita masa kecil. Iya, "Selamat Ulang Tahun Abah. Terima kasih telah menjadi sosok romantis yang hangat." ❤️
Beberapa hari setelah hari istimewa si putri kecil, di bulan November. Saat itu ayahnya sedang disibukkan dengan pekerjaannya, hingga larut malam. Bisa jadi, si putri kecil tidak ingat lagi dengan apa yang ia idamkan. "Nak, tidurnya yang bener." Kemudian si putri kecil bangun dengan setengah kesadarannya, dan membenarkan posisi tidurnya. "Ini pianika baru, hadiah ulang tahun." Ucap ayah pada putrinya yang sempat terbangun karena melihat pianika barunya, kemudian memeluknya, lagi-lagi dengan setengah kesadarannya.
Beranjak dewasa, si putri kecil teringat betul dialog manis dengan ayahnya malam itu. Iya, ayahnya adalah sosok paling romantis tanpa mampu membungkusnya dengan sebuah frasa atau kata-kata. Dan ia sendiri sadar, bahwa ia adalah si kecil tidak tahu diri karena lupa untuk sekadar "berterima kasih".
Cerita mini yang diqiyaskan dari cerita masa kecil. Iya, "Selamat Ulang Tahun Abah. Terima kasih telah menjadi sosok romantis yang hangat." ❤️
11/10/2019
Rumit
Menjadi pribadi yang kuat, selalu terlahir dari ujian yang padat. Mana mungkin mampu tegar, tanpa melewati pagar kesabaran.
Hidup terkadang lucu. Ada orang-orang yang sibuk mengkhawatirkan, lantas yang dikhawatirkan enggan memperhatikan. Ada orang-orang yang kontinyu mendoakan, lantas yang didoakan malas tuk saling bertatapan. Ada orang-orang yang berjuang, lantas yang diperjuangkan menjauhkan diri dari peradaban.
Hidup serumit itu. Diperumit oleh manusia-manusia diluar nalar. Melulu berfikir tentang akal, lupa bahwa nurani pun turut menuntut haknya. Iya, merasa benar secara aqliyah belum tentu dibenarkan oleh lubuk hatinya.
Hidup terkadang lucu. Ada orang-orang yang sibuk mengkhawatirkan, lantas yang dikhawatirkan enggan memperhatikan. Ada orang-orang yang kontinyu mendoakan, lantas yang didoakan malas tuk saling bertatapan. Ada orang-orang yang berjuang, lantas yang diperjuangkan menjauhkan diri dari peradaban.
Hidup serumit itu. Diperumit oleh manusia-manusia diluar nalar. Melulu berfikir tentang akal, lupa bahwa nurani pun turut menuntut haknya. Iya, merasa benar secara aqliyah belum tentu dibenarkan oleh lubuk hatinya.
10/28/2019
Belajar dari Uang
Sore itu, kebetulan sekali
abah sedang tidak sibuk. Kurang lebih satu jam sebelum waktu maghrib tiba, ia
bercerita denganku dan adik-adikku. Antusiasnya dalam bercerita menggugah
semangat kami untuk terus mendengarkan dan bertanya banyak hal. Pengalamannya
yang beragam cukup membuat kami takjub, meskipun ada bagian-bagian yang hampir
setiap cerita, ia ulang-ulang. Namun, lantas hal itu tak membuat kami merasa
bosan.
Bagi kami, memiliki
kesempatan untuk ngobrol dengan abah adalah cukup sulit
dikarenakan kesibukan dan abah adalah orang yang tidak banyak berbicara.
Bercerita tentang pengalaman-pengalamannya di masa lalu tidak menafikan hikmah
dari cerita tersebut. Banyak pelajaran yang dapat dipetik. Rasa syukur, kagum,
sedih, dan bangga beradu menjadi satu. “Iya, abah memang pejuang”, kalimat itu
terbesit di dalam hati kami. Abah bercerita tentang masa kecilnya, bahwa
ditinggalkan oleh sosok ayah bukan satu-satunya hambatan untuk terus berjuang.
Memiliki delapan bersaudara dengan jarak usia yang terpaut jauh adalah
kenikmatan hidup tersendiri. Iya, abah adalah anak terakhir alias “bontot” di
keluarganya.
Selain masa kecilnya, abah
juga menceritakan pengalamannya saat berusia sekitar 40 hingga 50 tahunan yang
berada di lingkungan politik. Iya, saat itu abah adalah salah satu pejabat
perwakilan rakyat dan ketua dari salah satu partai. Ia juga sibuk di bidang
pendidikan. Kesibukan-kesibukan ini yang pada akhirnya, memiliki prinsip bahwa
waktu berkumpul adalah hal penting.
Cerita demi cerita ia
sampaikan, tibalah di bagian yang membuat kami bangga. “Uang politik ya untuk
politik. Abah nggak berani bawa ke rumah. Di rumah kan orang-orangnya lagi pada
menuntut ilmu. Makanya, kalau lagi dapat pesangon di luar gaji, ya dikembalikan
untuk kepentingan politik lagi”, jelas abah yang seketika membuat kami takjub.
Di tengah hiruk-pikuknya pejabat yang korupsi dan memperkaya diri, abah memilih
untuk neriman demi mengambil barokah.
Dari cerita tersebut,
secara tersirat abah mengajarkan kepada kami, bahwa uang adalah keperluan, tapi
tidak semata-mata kebahagiaan memerlukan uang.
9/23/2019
Random
Bercerita tentang masa lalu memang tidak ada habisnya. Semakin diingat, semakin dalam menyelam. Aku tahu, itu bukan hal baik. Apalagi, masa lalu yang cukup kelam. Aku tahu bahwa sebaiknya dipendam, dijadikan pelajaran. Sayangnya, aku tidak pandai membual, bahwa aku tidak benar-benar membuang.
Kisah pilu di masa lalu sangat beragam. Saat itu, usiaku masih diambang penuh harapan. Berbagai macam angan aku tanam, dan kekecewaan tumbuh dengan cara yang tak seragam.
Aku tidak tahu, kata apa yang tepat untuk mengungkapnya. Aku bodoh? Atau tidak sadar diri? Atau bahkan tidak tahu diri? Tapi yang jelas, menyalahkan diri sendiri bukan jalan terbaik. Bodohnya, aku melakukannya. Iya, dari banyaknya cara untuk mengambil pelajaran dari masa kelam, aku memilih sibuk untuk menyesal dan menyalahkan. Aku tahu, itu salah.
Aku tidak tahu persis, apakah Tuhan akan memaafkan? Siapa yang tidak tahu, bahwa Ia Maha Memaafkan. Masalahnya, apa pantas aku dimaafkan? Ah, aku begitu malu denganMu, Tuhan. Lupa kesalahan, seenaknya minta dimaafkan, dasar aku.
Tapi jika aku dimaafkan, Terima kasih, Tuhan. Engkau adalah satu-satunya alasan aku bertahan. Modal percaya bahwa Engkau satu-satunya yang tidak pernah berkhianat. Engkau satu-satunya harapan yang akurat. Lagi-lagi, terima kasih, Tuhan.
Kisah pilu di masa lalu sangat beragam. Saat itu, usiaku masih diambang penuh harapan. Berbagai macam angan aku tanam, dan kekecewaan tumbuh dengan cara yang tak seragam.
Aku tidak tahu, kata apa yang tepat untuk mengungkapnya. Aku bodoh? Atau tidak sadar diri? Atau bahkan tidak tahu diri? Tapi yang jelas, menyalahkan diri sendiri bukan jalan terbaik. Bodohnya, aku melakukannya. Iya, dari banyaknya cara untuk mengambil pelajaran dari masa kelam, aku memilih sibuk untuk menyesal dan menyalahkan. Aku tahu, itu salah.
Aku tidak tahu persis, apakah Tuhan akan memaafkan? Siapa yang tidak tahu, bahwa Ia Maha Memaafkan. Masalahnya, apa pantas aku dimaafkan? Ah, aku begitu malu denganMu, Tuhan. Lupa kesalahan, seenaknya minta dimaafkan, dasar aku.
Tapi jika aku dimaafkan, Terima kasih, Tuhan. Engkau adalah satu-satunya alasan aku bertahan. Modal percaya bahwa Engkau satu-satunya yang tidak pernah berkhianat. Engkau satu-satunya harapan yang akurat. Lagi-lagi, terima kasih, Tuhan.
7/12/2019
Terima kasih, Tuhan
Lupa bersyukur adalah rutinan. Manusia tidak tahu diri ini lupa akan asal agrapana. Lupa akan siapa pengukir dunia. Lupa akan siapa pemegang nyawa. Bahkan lupa akan mati yang akan datang.
Bersyukur selalu menjadi kata dasar mamah untuk menasihati. Ia berkata dari lubuk hati penuh kehati-hatian. Tapi aku justru tidak tahu diri. Kemudian marah-marah sendiri.
Oh Tuhan. Ternyata sudah lama aku lalai akan kehadiran-Mu. Lalai akan turun tangan-Mu atas segala takdirku. Lalai akan berucap syukur akan segala nikmat-Mu, yang tidak semua orang beruntung sepertiku. Yang aku lihat hanyalah yang tabu. Lalai bahwa aku diberikan banyak kebahagiaan dan justru buru-buru ambau.
Terima kasih, Tuhan.
5/02/2019
Cuplikan Abah
Rasa-rasanya baru kemarin aku berlama-lama menunggunya untuk menjemputku pulang dari sekolah. Abah, panggilanku kepada ayah, waktu itu ia masih aktif di kantor legislatif suatu daerah. Ia menjemput dengan motornya.
Abah bukan sekadar ayah bagiku. Tentu juga bagi adik dan mbakku. Ia tidak dipenuhi rasa gengsi untuk membantu pekerjaan umi (panggilan untuk ibu). Abah yang tiap pagi menyiapkan sarapan, uang saku, dan mengantar sekolah. Posisi umi memang sebagai guru yang hampir tiap pagi juga harus bersiap-siap.
Abah memang tidak mengenal lelah. Rasanya gatal benar tangan dan kakinya jika tidak melakukan suatu pekerjaan. Hebatnya lagi, ia tidak pernah mau merepotkan. Meski itu harus berhutang dan harus dibayar.
Tahun begitu cepat mengikis waktu. Tentu abahpun tak sekuat dulu. Memikul pilu bahkan tanpa orang tahu. Garis-garis serta lekukan sudah menghiasi kulitnya. Ia mulai menua dan semakin menua.
Sakit-sakit mulai menjangkit. Seperti manusia pada umumnya. Ia sabar sembari beritikad untuk keluar dari sakit-sakitnya. Berjalannya waktu pun membuat ia juga semakin tua. Kakinya melemah pun tangannya. Tapi nasihat-nasihatnya sam sekali tidak berubah. Cara ia bagaimana menghadapi hidup. Menanggapi bermacam-macam karakter orang.
Abah sudah banyak berjuang. Tapi anak-anaknya belum mampu menggantikan. Payah!
Bagi aku, adik, mbak, dan umi, abah adalah kekuatan bagi kami. Tidak mengaguminya adalah fana. Tidak memujinya adalah dusta.
Semoga Allah segera menyembuhkan Abah :)
Abah bukan sekadar ayah bagiku. Tentu juga bagi adik dan mbakku. Ia tidak dipenuhi rasa gengsi untuk membantu pekerjaan umi (panggilan untuk ibu). Abah yang tiap pagi menyiapkan sarapan, uang saku, dan mengantar sekolah. Posisi umi memang sebagai guru yang hampir tiap pagi juga harus bersiap-siap.
Abah memang tidak mengenal lelah. Rasanya gatal benar tangan dan kakinya jika tidak melakukan suatu pekerjaan. Hebatnya lagi, ia tidak pernah mau merepotkan. Meski itu harus berhutang dan harus dibayar.
Tahun begitu cepat mengikis waktu. Tentu abahpun tak sekuat dulu. Memikul pilu bahkan tanpa orang tahu. Garis-garis serta lekukan sudah menghiasi kulitnya. Ia mulai menua dan semakin menua.
Sakit-sakit mulai menjangkit. Seperti manusia pada umumnya. Ia sabar sembari beritikad untuk keluar dari sakit-sakitnya. Berjalannya waktu pun membuat ia juga semakin tua. Kakinya melemah pun tangannya. Tapi nasihat-nasihatnya sam sekali tidak berubah. Cara ia bagaimana menghadapi hidup. Menanggapi bermacam-macam karakter orang.
Abah sudah banyak berjuang. Tapi anak-anaknya belum mampu menggantikan. Payah!
Bagi aku, adik, mbak, dan umi, abah adalah kekuatan bagi kami. Tidak mengaguminya adalah fana. Tidak memujinya adalah dusta.
Semoga Allah segera menyembuhkan Abah :)
4/21/2019
Ruang Luka
Tentang luka, aku sendiri tidak menyanggupinya. Tidak sedikit yang hobi menilik masa lalu. Kemudian mereka mengulang luka. Konyol, itu kesalahan mereka sendiri.
Perihal luka ternyata aku tak jauh dari kekonyolan itu. Aku masih gemar melihat masa lalu. Kembali menghembus aroma lampau. Menelisik setiap sudut ruang luka itu.
Rupanya masa laluku tidak terlalu buruk. Benar, itu caraku memantapkan hatiku. Untuk kembali bersyukur.
Buktinya, luka tidak sembuh dengan luka itu sendiri. Mungkin dengan bersyukur. Menikmati udara kehidupan yang akan terus melaju. Sembari menyeruput secangkir kopi dan mengukir mimpi-mimpi. Sehingga mimpi tersebut mantap dalam angan. Kemudian aku tak sekadar memendam harapan.
Ruang luka memang perlu dikunjungi. Hanya sebatas area introspeksi. Tidak lebih, apalagi kembali sakit hati.
Sejatinya luka tidak akan menghilang. Ia adalah sebuah pelajaran. Untuk kehidupan di masa depan.
Perihal luka ternyata aku tak jauh dari kekonyolan itu. Aku masih gemar melihat masa lalu. Kembali menghembus aroma lampau. Menelisik setiap sudut ruang luka itu.
Rupanya masa laluku tidak terlalu buruk. Benar, itu caraku memantapkan hatiku. Untuk kembali bersyukur.
Buktinya, luka tidak sembuh dengan luka itu sendiri. Mungkin dengan bersyukur. Menikmati udara kehidupan yang akan terus melaju. Sembari menyeruput secangkir kopi dan mengukir mimpi-mimpi. Sehingga mimpi tersebut mantap dalam angan. Kemudian aku tak sekadar memendam harapan.
Ruang luka memang perlu dikunjungi. Hanya sebatas area introspeksi. Tidak lebih, apalagi kembali sakit hati.
Sejatinya luka tidak akan menghilang. Ia adalah sebuah pelajaran. Untuk kehidupan di masa depan.
Langganan:
Postingan (Atom)